Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : Bewara Humas

Curah Hujan Tinggi di Sukabumi dan Upaya Mitigasinya

Oleh : Yulia Enshanty, S.Pd, M.Pd (Guru Geografi di SMAN 1 Warungkiara, Kabupaten Sukabumi)

Kabupaten Sukabumi tengah menghadapi peningkatan curah hujan yang signifikan pada pertengahan November 2025. Berdasarkan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat, wilayah ini termasuk dalam kategori “Awas” terhadap potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang (Mitrapol.com, 2025). Kondisi cuaca ekstrem ini menuntut kewaspadaan masyarakat dan pemerintah daerah karena berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

Secara geografis, Kabupaten Sukabumi memiliki bentang alam beragam, mulai dari pesisir hingga pegunungan. Kondisi topografi yang kompleks membuat wilayah ini rentan terhadap dampak curah hujan tinggi. Air hujan yang turun di daerah hulu seperti Nagrak, Cicurug, dan Kabandungan akan mengalir menuju hilir melalui sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimandiri yang melintasi kawasan padat penduduk. Ketika intensitas hujan meningkat secara terus-menerus, debit air sungai dapat meluap dan menimbulkan banjir di dataran rendah.Selain wilayah tersebut, Kecamatan Warungkiara juga termasuk daerah yang rawan bencana hidrometeorologi karena dilalui Sungai Cimandiri dan memiliki topografi bergelombang. Beberapa desa di Warungkiara kerap terdampak banjir saat curah hujan ekstrem, sementara bagian lerengnya berpotensi longsor akibat kondisi tanah jenuh air (BPBD Sukabumi, 2025).

Sementara itu, kawasan Palabuhanratu sebagai wilayah pesisir dan Ujung Genteng di bagian selatan Sukabumi juga menghadapi risiko tinggi akibat curah hujan ekstrem. Selain ancaman banjir pesisir, kedua wilayah ini kerap mengalami genangan akibat limpasan air dari perbukitan dan buruknya sistem drainase perkotaan. Di beberapa titik rawan, curah hujan tinggi yang bersamaan dengan pasang laut dapat memperparah genangan dan menimbulkan kerusakan infrastruktur pesisir.

Selain faktor alam, peningkatan risiko bencana juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Pertumbuhan permukiman, kawasan industri, dan infrastruktur yang pesat di beberapa kecamatan telah menyebabkan alih fungsi lahan resapan air. Permukaan tanah yang tertutup bangunan dan aspal mempercepat aliran air permukaan (run-off), sementara sistem drainase di sejumlah wilayah belum mampu menampung volume air yang besar. Di sisi lain, pendangkalan sungai dan penumpukan sampah memperkecil kapasitas aliran air sehingga mudah terjadi luapan ketika hujan deras turun dalam waktu lama. Akibatnya, curah hujan tinggi tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak sosial dan ekonomi — mengganggu aktivitas masyarakat, merusak rumah, jalan, lahan pertanian, serta fasilitas umum. Di beberapa wilayah perbukitan seperti Cisolok, Nyalindung, dan Lengkong, potensi tanah longsor juga meningkat akibat kejenuhan air dalam tanah dan lemahnya struktur lereng. Setelah bencana terjadi, masyarakat sering menghadapi masalah lanjutan seperti penyakit pascabanjir dan keterbatasan akses terhadap air bersih.

Untuk mengurangi risiko tersebut, berbagai upaya mitigasi perlu diperkuat. Pemerintah daerah bersama BPBD Sukabumi diharapkan mempercepat normalisasi sungai dan pembersihan saluran air, terutama di kawasan padat penduduk. Masyarakat juga perlu berperan aktif melalui kegiatan kerja bakti lingkungan, tidak membuang sampah ke sungai, serta membuat sumur resapan guna meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan. Selain itu, sistem peringatan dini (EWS) berbasis komunitas harus terus dikembangkan agar warga dapat segera mengetahui potensi bencana dan melakukan langkah evakuasi lebih cepat.

Dalam jangka panjang, mitigasi bencana harus diintegrasikan dengan perencanaan tata ruang dan rehabilitasi lingkungan di daerah hulu. Penanaman kembali vegetasi di kawasan tangkapan air seperti di DAS Cimandiri dan Ciletuh dapat membantu mengendalikan aliran air permukaan dan mengurangi potensi banjir di wilayah hilir. Edukasi kebencanaan di sekolah, lembaga masyarakat, serta pelatihan kesiapsiagaan bagi warga menjadi langkah penting dalam membangun budaya sadar bencana.

Dengan kondisi cuaca yang dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global dan lokal, seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan suhu muka laut hangat di lepas pantai selatan Jawa Barat, masyarakat Sukabumi perlu terus meningkatkan kewaspadaan. (Mitrapol.com, 2025) Curah hujan tinggi bukan hanya fenomena alam yang tak bisa dihindari, melainkan peringatan agar manusia lebih bijak dalam mengelola lingkungan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga ilmiah seperti BMKG, dampak dari cuaca ekstrem dapat diminimalkan, dan Sukabumi dapat menjadi daerah yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.

 

Referensi

BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Barat. (2025). Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Jawa Barat, November 2025.

BPBD Kabupaten Sukabumi. (2025). Laporan Daerah Rawan Bencana Hidrometeorologi Sukabumi.

“BMKG Peringatkan Curah Hujan Tinggi di Jawa Barat, Sukabumi Masuk Level Awas!” Mitrapol.com, 10 November 2025.

“Curah Hujan Meningkat, Sukabumi Masuk Kategori AWAS Menurut BMKG Jawa Barat.” Matanusa.net, 10 November 2025.

Muhammad, F. R., Lubis, S. W., & Setiawan, S. (2022, September). The Influence of Boreal Summer Madden–Julian Oscillation on Precipitation Extremes in Indonesia. In Proceedings of the International Conference on Radioscience, Equatorial Atmospheric Science and Environment and Humanosphere Science, 2021 (pp. 133-143). Singapore: Springer Nature Singapore.