Menelisik Dampak Perluasan Perkebunan Sawit terhadap Hutan dan Iklim
Oleh : Yulia Enshanty, S.Pd, M.Pd
(Guru Geografi di SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi)
Perluasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia memberikan dampak lingkungan yang sangat besar dan beragam. Salah satu dampak paling signifikan adalah deforestasi yang masif, dimana hutan-hutan tropis yang kaya keanekaragaman hayati berubah fungsi menjadi lahan sawit.
Selama periode 1990 hingga 2005, lebih dari separuh kehilangan hutan tropis di Indonesia disebabkan oleh konversi lahan menjadi perkebunan sawit. Transformasi ini tidak hanya menghilangkan habitat satwa endemik yang sangat terancam punah seperti orangutan dan harimau Sumatera, tetapi juga mengakibatkan degradasi ekosistem yang luas karena monokultur sawit menggantikan hutan yang terdiri dari berbagai jenis flora dan fauna (Austin et al., 2019).
Selain deforestasi, perluasan lahan gambut untuk perkebunan sawit juga menyebabkan emisi gas rumah kaca yang sangat tinggi. Lahan gambut merupakan penyimpan karbon terbesar di daratan, bahkan lebih besar daripada hutan tropis biasa, sehingga drainase lahan gambut untuk sawit melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.
Emisi gas rumah kaca dari degradasi gambut ini diperkirakan mencapai sekitar 5% dari total emisi global. Praktik ini seringkali berkontribusi pada perubahan iklim global yang semakin cepat. Ironisnya, kemampuan penyerapan karbon oleh pohon sawit dewasa jauh lebih kecil dibandingkan emisi yang dilepaskan saat pembukaan lahan baru, sehingga ekspansi perkebunan sawit menjadi sumber bersih peningkatan emisi karbon (Carlson et al., 2018).
Perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan sawit juga menyebabkan pencemaran lingkungan di tingkat lokal. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang intensif dalam budidaya sawit berpotensi mencemari tanah serta sungai di sekitarnya. Limbah cair dari pengolahan sawit, yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent (POME), jika tidak diolah dengan baik dapat mencemari perairan, menyebabkan eutrofikasi yang berbahaya bagi kehidupan perairan. Hal ini tidak hanya menurunkan kualitas air, tetapi juga mengancam kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, struktur tanah mengalami penurunan kesuburan secara bertahap akibat hilangnya material organik alami, sementara risiko bencana alam seperti banjir dan longsor meningkat akibat perubahan sistem drainase, terutama di daerah gambut (Murniati et al., 2023).
Selain berbagai dampak ekologis tersebut, perluasan perkebunan sawit juga membawa perubahan besar terhadap dinamika hidrologi wilayah. Ketika hutan digantikan oleh tanaman monokultur, kapasitas tanah untuk menahan air hujan berkurang drastis. Pohon sawit yang berakar lebih dangkal tidak mampu menyerap air seefektif hutan tropis yang memiliki struktur vegetasi berlapis. Akibatnya, wilayah sekitar perkebunan menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi ekstrem, seperti genangan pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Perubahan pola aliran permukaan ini akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat dan memicu ketidakstabilan ekologis jangka panjang.
Di sisi lain, tekanan terhadap hutan akibat ekspansi sawit juga memengaruhi kehidupan budaya dan praktik ekologis tradisional masyarakat lokal. Banyak komunitas adat yang sebelumnya memanfaatkan hutan untuk ritual, obat-obatan, hingga pola pertanian subsisten kehilangan ruang hidupnya.
Pergeseran ini tidak hanya mengurangi keberagaman budaya, tetapi juga menghilangkan praktik-praktik kearifan lokal yang sebenarnya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Ketika pengetahuan lokal tidak lagi menjadi bagian dari pengelolaan lanskap, risiko kerusakan lingkungan menjadi lebih tinggi karena hilangnya pendekatan holistik berbasis pengalaman turun-temurun.
Hal ini menunjukkan bahwa dampak sawit tidak hanya bersifat fisik terhadap lingkungan, tetapi juga merambah hingga ke dimensi sosial budaya yang lebih dalam.
Perluasan sawit juga memicu konflik sosial dan agraria, dengan masyarakat lokal dan adat yang kehilangan akses terhadap lahan hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka. Kebijakan dan rencana pemerintah yang memberi target ekspansi sampai puluhan juta hektar rawan menimbulkan risiko lingkungan dan sosial yang besar jika tidak dikelola secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, perluasan perkebunan kelapa sawit membawa tantangan besar bagi upaya konservasi hutan, pengurangan emisi karbon, dan perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia, yang memerlukan solusi komprehensif dan kolaboratif agar tidak merusak masa depan lingkungan dan sosial bangsa ini (Obidzinski et al., 2014; Austin et al., 2019).
















.jpg)
