Ketika Hujan Ekstrem Menyentuh Hutan yang Rusak
Oleh : Yulia Enshanty, S.Pd, M.Pd
Guru Geografi di SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi
Sukabumi, Warungkiara - Banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025 menjadi bukti nyata bahwa bencana hidrometeorologi terjadi akibat gabungan antara faktor alam dan kerusakan lingkungan. Siklon tropis Senyar memicu hujan ekstrem dalam waktu singkat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sehingga sungai dan saluran air meluap (Wikipedia, 2025). Curah hujan dengan intensitas tinggi akibat siklon tropis merupakan pemicu utama terjadinya banjir bandang pada banyak wilayah di Asia Tenggara pada periode yang sama (The Guardian, 2025).
Dampaknya, kejadian banjir dan longsor memakan korban jiwa, merusak infrastruktur, serta memaksa ribuan warga mengungsi (Wikipedia, 2025). Para pakar mengingatkan bahwa tanpa pemulihan tutupan hutan, penguatan tata kelola DAS dan pengendalian alih fungsi lahan, bencana serupa akan terus berulang, bahkan dengan tingkat keparahan yang lebih besar (Envidata, 2025). Kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga sangat besar, meliputi kerusakan lahan pertanian dan putusnya akses logistik. Selain itu, masyarakat terdampak harus menghadapi risiko penyakit dan penurunan kualitas hidup setelah bencana melanda.
Banjir Sumatra 2025 menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat bahwa menjaga hutan bukan sekadar isu konservasi, tetapi penjaga utama keselamatan manusia. Selama lingkungan terus dieksploitasi, setiap hujan ekstrem berpotensi menjadi tragedi yang tak terelakkan. Kesadaran kolektif harus dibangun agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Investasi pada perlindungan lingkungan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan dan keamanan masyarakat di wilayah rawan bencana.
Dampaknya, kejadian banjir dan longsor memakan korban jiwa, merusak infrastruktur, serta memaksa ribuan warga mengungsi (Wikipedia, 2025). Para pakar mengingatkan bahwa tanpa pemulihan tutupan hutan, penguatan tata kelola DAS dan pengendalian alih fungsi lahan, bencana serupa akan terus berulang, bahkan dengan tingkat keparahan yang lebih besar (Envidata, 2025). Kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga sangat besar, meliputi kerusakan lahan pertanian dan putusnya akses logistik. Selain itu, masyarakat terdampak harus menghadapi risiko penyakit dan penurunan kualitas hidup setelah bencana melanda.
Banjir Sumatra 2025 menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat bahwa menjaga hutan bukan sekadar isu konservasi, tetapi penjaga utama keselamatan manusia. Selama lingkungan terus dieksploitasi, setiap hujan ekstrem berpotensi menjadi tragedi yang tak terelakkan. Kesadaran kolektif harus dibangun agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Investasi pada perlindungan lingkungan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan dan keamanan masyarakat di wilayah rawan bencana.
















.jpg)
